Proses menghadapi kematian…merupakan bagian dari kehidupan normal yang harus dijalani…permasalahannya adalah bagaimana menjalani proses kematian secara manusiawi dan bermartabat,terutama berkenaan dengan kondisi terminal dan ini harus dipahami secara kontekstual
Kondisi Terminal
Suatu kondisi dimana seseorang mengalami sakit atau penyakit yang tidak mempunyai harapan untuk sembuh dan menuju pada proses kematian dalam 6 bulan atau kurang ……
“an incurable and irreversible condition that result from injury or illness and that reasonable medical professionals would agree will probably result in death of the person with the injury or illness in six months or less”
(Legislature of the State of Arizona)
Suatu kondisi dimana seseorang mengalami sakit atau penyakit yang tidak mempunyai harapan untuk sembuh dan menuju pada proses kematian dalam 6 bulan atau kurang ……
“an incurable and irreversible condition that result from injury or illness and that reasonable medical professionals would agree will probably result in death of the person with the injury or illness in six months or less”
(Legislature of the State of Arizona)
Kematian
Sebagai wujud kehilangan kehidupan dan abadi sifatnya , baik bagi yang tengah menjalani proses kematian maupun bagi yang ditinggalkan . kematian ini dapat bermakna berbeda bagi setiap orang. Wolf (1989:754) mengemukakan bahwa setiap orang mempunyai kesempatan dan hak untuk meninggal secara damai dan nyaman, dan perawat dapat menyediakan bantuan keperawatan yang memungkinkan seseorang untuk meninggal secara damai menurut jalannya
Sebagai wujud kehilangan kehidupan dan abadi sifatnya , baik bagi yang tengah menjalani proses kematian maupun bagi yang ditinggalkan . kematian ini dapat bermakna berbeda bagi setiap orang. Wolf (1989:754) mengemukakan bahwa setiap orang mempunyai kesempatan dan hak untuk meninggal secara damai dan nyaman, dan perawat dapat menyediakan bantuan keperawatan yang memungkinkan seseorang untuk meninggal secara damai menurut jalannya
Pengalaman dan Kesadaran seseorang dalam menjalani proses kematian (NDEs & NDAs)
* Dalam konteks kondisi terminal, NDEs(Near Death Experience) merupakan pengalaman yang dirasakan sejalan dengan perubahan kondisi fisik yang dialami,sedangkan NDAs (Near death Awareness) merupakan pengalaman yang signifikan menjelang kematian, dapat terjadi tanpa disertai perubahan kondisi fisik,berfungsi untuk menyiapkan diri menghadapi kematian, dan dialami bila pasien dalam kondisi sadar penuh
Pada proses ini :
* Secara sadar yang berssangkutan meriviu pengalaman hidupnya secara mendetil , hal yang menjadi minat utamanya, dan bila memungkinkan berupaya terlibat dalam aktifitas itu
* Secara sadar yang berssangkutan meriviu pengalaman hidupnya secara mendetil , hal yang menjadi minat utamanya, dan bila memungkinkan berupaya terlibat dalam aktifitas itu
* Yang bersangkutan mengidentifikasi apa yg selama ini telah dipelajarinya dan kontribusi apa yang telah diberikan ke sekelilingnya,maaf memaafkan menjadi kepedulian utama, ybs menyadari ini merupakan aspek penting untuk mengatasi masalah yang tidak dapat diselesaikan
* Ybs memulai proses dengan menyatakan selamat berpisah kepada semua aspek kehidupan.. Melepaskannya satu persatu pada waktu yang berbeda, aktifitas,peran,kemandirian/kewenangan dll
PROBLEM yang berkaitan dengan THE DYING
Problem fisik, berkaitan dengan kondisi /penyakit terminalnya: nyeri, perubahan berbagai fungsi sistem tubuh, perubahan tampilan fisik
Problem psikologis, Ketidak berdayaan : kehilangan kontrol, ketergantungan, kehilangan diri dan harapan
Problem social, Isolasi dan keterasingan, perpisahan
Problem spiritual, faith,hope,fear of unknown
Ketidak-sesuaian, antara kebutuhan dan harapan dengan perlakuan yg didapat (dr,perawat,keluarga dsb)
TAHAPAN RESPON KLIEN terhadap DYING PROCESS (Kubler – Ross,1969) :
DENIAL – penolakan
ANGER – marah
BARGAINING – tawar menawar
DEPRESSION – kesedihan mendalam
ACCEPTANCE – menerima
ANGER – marah
BARGAINING – tawar menawar
DEPRESSION – kesedihan mendalam
ACCEPTANCE – menerima
DENIAL
No – not me, it can not be true
Respon dimana klien tidak percaya atau menolak terhadap apa yang dihadapi/ sedang terjadi. YBS tidak siap terhadap kondisi yang dihadapi dan dampaknya.DENIAL berfungsi sebagai buffer setelah mendengar sesuatu yang tidak diharapkan…
Ini memungkinkan bagi pasien untuk membenahi diri.. dengan berjalannya waktu, sehingga tidak defensif secara radikal.
No – not me, it can not be true
Respon dimana klien tidak percaya atau menolak terhadap apa yang dihadapi/ sedang terjadi. YBS tidak siap terhadap kondisi yang dihadapi dan dampaknya.DENIAL berfungsi sebagai buffer setelah mendengar sesuatu yang tidak diharapkan…
Ini memungkinkan bagi pasien untuk membenahi diri.. dengan berjalannya waktu, sehingga tidak defensif secara radikal.
ANGER
why me?
Fase marah terjadi saat fase denial tidak lagi bisa dipertahankan.
Rasa kemarahan ini sering sulit dipahami oleh keluarga/orang terdekat oleh karena dapat terpicu oleh hal-hal yang secara normal tidak menimbulkan kemarahan.Rasa marah ini sering terjadi karena rasa tidak berdaya,bisa terjadi kapan saja dan kepada siapa saja tetapi umumnya terarah kepada orang-orang yang secara emosional punya kedekatan hubunga
why me?
Fase marah terjadi saat fase denial tidak lagi bisa dipertahankan.
Rasa kemarahan ini sering sulit dipahami oleh keluarga/orang terdekat oleh karena dapat terpicu oleh hal-hal yang secara normal tidak menimbulkan kemarahan.Rasa marah ini sering terjadi karena rasa tidak berdaya,bisa terjadi kapan saja dan kepada siapa saja tetapi umumnya terarah kepada orang-orang yang secara emosional punya kedekatan hubunga
BARGAINING
Klien mencoba untuk melakukan tawar menawar dengan Tuhan agar terhindar dari kehilangan yang akan terjadi,ini bisa dilakukan dalam diam atau dinyatakan secara terbuka.Secara psikologis tawar menawar dilakukan untuk memperbaiki kesalahan atau dosa masa lalu
Klien mencoba untuk melakukan tawar menawar dengan Tuhan agar terhindar dari kehilangan yang akan terjadi,ini bisa dilakukan dalam diam atau dinyatakan secara terbuka.Secara psikologis tawar menawar dilakukan untuk memperbaiki kesalahan atau dosa masa lalu
DEPRESSION
Rasa kesedihan yang mendalam sebagai akibat kehilangan (past loss & impending loss),ekspresi kesedihan ini – verbal/non verbal merupakan persiapan terhadap kehilangan/perpisahan abadi dengan apapun dan siapapun
Rasa kesedihan yang mendalam sebagai akibat kehilangan (past loss & impending loss),ekspresi kesedihan ini – verbal/non verbal merupakan persiapan terhadap kehilangan/perpisahan abadi dengan apapun dan siapapun
ACCEPTANCE
Pada tahap menerima ini, klien memahami dan menerima keadaannya,yang bersangkutan mulai kehilangan interest dengan lingkungannya,dapat menemukan kedamaian dengan kondisinya, dan beristirahat untuk menyiapkan dan memulai perjalanan panjang
TINGKAT KESADARAN (State of awareness) terhadap kondisi terminal, baik dari sisi pasien atau keluarga harus dikaji untuk menentukan bagaimana perawat harus berkomunikasi dengan pasien dan keluarga .Tingkat kesadaran ini meliputi :
Clossed awareness
dalam hal ini klien dan keluarga tidak menyadari datangnya kematian, tidak tahu mengapa sakit dan percaya akan sembuh
dalam hal ini klien dan keluarga tidak menyadari datangnya kematian, tidak tahu mengapa sakit dan percaya akan sembuh
Mutual pretense
Dalam hal ini klien,keluarga,team kesehatan tahu bahwa kondisinya terminal tetapi merasa tidak nyaman untuk dan menghindari membicarakan kondisi yang dihadapi klien. Ini berat bagi klien karena tdk dapat mengekspresikan ketakutannya
Open awareness
Pada kondisi ini klien dan orang disekitarnya tahu bahwa ia berada diambang kematian sehingga tidak ada kesulitan untuk membicarakannya. Pada tahap ini klien dapat dilibatkan untuk proses intervensi keperawatan
Dalam hal ini klien,keluarga,team kesehatan tahu bahwa kondisinya terminal tetapi merasa tidak nyaman untuk dan menghindari membicarakan kondisi yang dihadapi klien. Ini berat bagi klien karena tdk dapat mengekspresikan ketakutannya
Open awareness
Pada kondisi ini klien dan orang disekitarnya tahu bahwa ia berada diambang kematian sehingga tidak ada kesulitan untuk membicarakannya. Pada tahap ini klien dapat dilibatkan untuk proses intervensi keperawatan
KEPERAWATAN…the unique function of the nurse is to assist the individual, sick or well (or to a peaceful death) in the performance of those activities in such a way that he/she can perform unaided if he/she has the necessary strength,will or knowledge (V.Henderson, 1967)
ICN (1987) merumuskan nursing sebagai
”NURSING encompasses autonomous and collaborative care of individuals of all ages,family, groups and communities, sick or well and in all settings. Nursing includes the promotions of health, prevention of illness and the care of ill, disable and dying people …”
”NURSING encompasses autonomous and collaborative care of individuals of all ages,family, groups and communities, sick or well and in all settings. Nursing includes the promotions of health, prevention of illness and the care of ill, disable and dying people …”
Dari kedua pengertian keperawatan tsb,
1. Profesi keperawatan menekankan pentingnya kontribusi perawat dalam pendampingan klien yang berada dalam ambang kematian
2. Perawat harus membantu klien untuk dapat menjalani dan menyongsong proses kematian secara manusiawi, damai dan bermartabat
2. Perawat harus membantu klien untuk dapat menjalani dan menyongsong proses kematian secara manusiawi, damai dan bermartabat
Tujuan keperawatan klien dengan kondisi terminal secara umum :
Menghilangkan/ mengurangi rasa kesendirian,takut dan depresi
Mempertahankan rasa aman, harkat dan rasa berguna
Membantu klien menerima rasa kehilangan
Membantu kenyamanan fisik
“Mempertahankan harapan”
(faith and hope)
Mempertahankan rasa aman, harkat dan rasa berguna
Membantu klien menerima rasa kehilangan
Membantu kenyamanan fisik
“Mempertahankan harapan”
(faith and hope)
Intervensi Keperawatan:
Tahap denial..Beri dukungan pada fase awal karena ini berfungsi protektif dan memberi waktu bagi klien untuk melihat kebenaran..bantu untuk melihat kebenaran dengan konfirmasi kondisi a.l. melalui second opinion
Tahap anger ..Bantu klien untuk memahami bahwa marah adalah respon normal akan kehilangan dan ketidak berdayaan..siapkan bantuan berkesinambungan agar klien merasa aman
Tahap bargaining.. Asah kepekaan perawat bila fase tawar menawar ini dilakukan secara diam-diam.. Bargaining sering dilakukan klien karena rasa bersalah atau ketakutan terhapap bayang-bayang dosa masa lalu…Bantu agar klien mampu mengekspresikan apa yang dirasakan…apabila perlu refer ke pemuka agama untuk pendampingan
Tahap depresi..Klien perlu untuk merasa sedih dan beri kesempatan untuk mengekspresikan kesedihannya..
Perawat hadir sebagai pendamping dan pendengar
Perawat hadir sebagai pendamping dan pendengar
Tahap menerima..Klien merasa damai dan tenang..dampingi klien untuk mempertahankan rasa berguna (self worth)..berdayakan pasien untuk melakukan segala sesuatu yang masih mampu dilakukan dengan pendampingan..fasilitasi untuk menyiapkan perpisahan abadi
Kepustakaan :
Kemp & Pillitteri (1984) ,Fundamentals of Nursing, Boston :Little Brown&co
Kubler-Ross,E.,(1969) ,On Death and Dying, ,London: Tavistock Publication
Kircher & Callanan (2003),Near Death Experiences and DeathAwareness in the Terminally Ill,Connecticut :www.iands org
Kozier & Erb (1991),Fundamentals of Nursing,vol.II, 4th ed.,California : Addison-Wisley Publishing Co.
Legislature of the State Of Arizona,Medical treatment;Terminal Illness,HB 2001-432R-1 Ver,ALIS onlineNorthern Territory of Australia (1997),Right of the Terminally Ill Act
Pattison,Mansell (1977), The Experience of Dying, Englewood Cliffs:Prentice- Hall Inc.
www.growthhouse.org, Grief,anger and loss : Improving care of the Dying
1. Anemia ringan: kadar hemoglobin dalam darah berkisar 9-11 g/100 ml
2. Anemia sedang: kadar hemoglobin antara 6-8 g/100 ml
3. Anemia berat: kadar hemoglobin kurang dari 6 g/100 ml.
Kadar hemoglobin dalam setiap sel darah akan menentukan kemampuan darah untuk mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh. Seperti kita tahu, oksigen diperlukan demi kelancaran seluruh fungsi organ tubuh.
Penyebab anemia:
1. Kekurangan zat besi dan asam folat yang disebut anemia defisiensi besi. Selain itu bisa juga karena kekurangan asam folat dan vitamin B12 (anemia megaloblastik).
2. Sumsum tulang belakang yang kurang mampu membuat sel-sel darah baru (anemia hipoplastik)
3. Penghancuran sel darah merah berlangsung lebih cepat dari pembuatannya (anemia hemolitik)
Meningkatnya volume darah berarti meningkat pula jumlah zat besi yang dibutuhkan untuk memproduksi sel-sel darah merah.
Ciri-ciri penderita anemia:
Acap kali tidak menampakkan gejala khusus, tetapi secara fisik penderita akan terlihat pucat terutama pada selaput lendir kelopak mata, bibir, juga kuku. Selain itu, tubuh terasa lesu, lemah, mudah lelah, sering menderita pusing disertai pandangan berkunang-kunang terutama ketika bangkit dari posisi duduk atau membungkuk. Konsentrasi pun jadi menurun.
Caramengatasi anemia:
Memperbanyak konsumsi makanan yang kaya akan zat besi, asam folat juga vitamin B, seperti hati, daging, kuning telur, ikan teri, susu, dan kacang-kacangan seperti tempe dan susu kedelai, serta sayuran berwarna hijau tua seperti bayam, dan katuk.
Selain itu, konsumsi juga jenis makanan yang mempermudah penyerapan zat besi, misalnya makanan yang mengandung vitamin C tinggi. Yang perlu dihindari adalah makanan/minuman yang dapat menghambat penyerapan zat besi, misalnya kopi serta teh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar